Indonesia
adalah Negara dengan jumlah luas hutan terbesar di
dunia yaitu 884.950 km², sekitar 46,46% wilayah Indonesia merupakan kawasan
perhutanan. Hutan tersebut rupanya tidak hanya sebagai lingkungan dimana
banyak tinggal habitat hewan, namun juga sebagai penampung karbondioksida,
modulator hidrologika dan yang terpenting adalah merupakan salah satu aspek
biosfer bumi.
Hutan
yang tampak rimbun itu juga tidak hanya digunakan sebagai pelindung bumi, namun
juga merupakan asset Indonesia yang wajib untuk dijaga dan dilindungi oleh
penduduk Indonesia sendiri.
Selain
berfungsi sebagai ekosistem, hutan juga berperan sebagai penyedia sumber air,
penghasil oksigen, tempat tinggal flora dan fauna, penyeimbang lingkungan dan
sebagai pencegah timbulnya pemanasan global.
Namun
sejak beberapa tahun terakhir, sudah banyak hutan di Indonesia yang dihancurkan
secara sengaja oleh cuaca atau oleh tangan manusia. Selain itu sudah
berjuta-juta pohon pula yang habis terbakar.
Selain berdampak
pada pemanasan global, ternyata kebakaran hutan juga menyebabkan tersebarnya emisi gas CO2ke atmosfer,
kekeringan, infeksi saluran nafas dan kanker
paru-paru terutama untuk yang berusia lanjut dan anak-anak, dan menyebabkan
kebanjiran.
Contohnya saja kebakaran yang terjadi di Riau pada tahun
2015 kemarin. Kebakaran yang menyebabkan kabut asap dan gangguan pernafasan ini
menjadi suatu permasalahan yang sangat berat di Indonesia. Karena tidak hanya
warga Riau saja yang terkena dampak dari kebakaran hutan, namun juga Negara
lain.
Walaupun mungkin fungsi hutan tidak terlihat dan terasa
secara jelas, namun ternyata peran hutan sangat mempengaruhi kehidupan
ekosistem di bumi.
Oleh sebab itulah untuk mengatur kembali ekosistem di bumi
dan membantu mengurangi dampak dari pemanasan global, marilah kita menjadikan
pohon sebagai keluarga kita.
Yang dimana satu pohon sangat berarti, sehingga tidak ada
lagi tangan-tangan jahat manusia yang berusaha merusak hutan untuk kepentingan
dan keuntungannya sendiri. Tujuan dari pola pikir ini adalah untuk
keberlanjutan ekosistem di bumi, dan juga untuk membantu bumi untuk mengurangi
dampak dari pemanasan global.
Bila bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga dan merawat
bumi. Kalau bukan sekarang,kapan lagi waktu kita untuk memperbaiki bumi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar